Sajak untuk hati yang paling sejuk

Tujuanmu menjadi penenang, bukan penghancur. Tugasmu mengayomi, bukan memisahkan. Hati itu dibentuk bukan untuk membentak, bukan untuk melukai hati yang lain. Jadikan hati yang melahirkan orang yang berhati baik, bukan pemberontak. Jadikan hatimu tempat bersemayamnya kata bijak, bukan kata pengkhianat. Hati, menjadikanmu tetap hati-hati, bukan suka ambil hati. Olah hatimu, jadi hati yang baik dan bijak. Jadikan hatimu sumber kasih sejati, bukan pendengki.

Kepada hati, organ paling kecil dari tubuh. Tetaplah kuat menampung kisah hidupku. Tetaplah menjadi tempat bersemayamnya kasih. Jika saatnya tiba, kita akan bercerita, membagi kisah kasih yang kau beri. Jangan lupa, sisipkan di tempat terluarmu segelintir luka, biar nanti ada cerita. Bukan untuk diabadikan tetapi untuk bahan refleksi. Andai saatnya tiba, kau ubah luka itu jdi suka bukan lagi duka.

Aku bangga padamu hatiku. Kau terlihat empuk, lembut, namun selalu tegar. Walau kadang engkau merasa nyeri, tetapi ada kasih yang menyembuhkannya. Kau sempurna. Pandai menyembuhkan luka, tidak ingin menyimpan dendam. Bangga saja padamu.

Teruntukmu hatiku, tetaplah jadi hati yang menguatkan ragaku. Jangan biarkan aku menyerah. Jangan biarkan mulutku melukai hati yang lain. Ajar aku mengerti artinya cinta sejati, bukan keegoisan sejati. Bimbing tanganku untuk tidak menyentuh hal-hal yang menyakitkan. Biarlah aku menjadi dewasa karena tuntunanmu🙏

IJINKAN AKU MEMILIH

Semesta dan seluruh isinya seakan tidak bersahabat denganku. Dengan keangkuhannya, semua menginginkanku untuk menuruti setiap perintah. Bukan persoalan menghargai atau tidak, tetapi kesiapan hati untuk menerima kenyataan. Layaknya badai yang mengguncang, situasi sekarang menuntut hati dan pikiran untuk tetap tenang dan mampu melerai. Tuntutan Kesiapan otak untuk mengurai di setiap detik persoalan. Acapkali godaan datang untuk berhenti berjuang, namun itu bertolak belakang dengan kata hati. Bisikan manis di hati kecilku, membuat ku optimis dengan hari esok.

Hari-hariku makin rumit. Persoalan yang sama menggerogoti hati dan otak. Seakan semesta ini ego dan tidak mencintaiku lagi. Memilih hening, bukan berarti menyatakan kekosongan hati. Bukan pula sebagai tanda istirahat pada sebuah perjuangan. Hening, membuka ruang untuk hati melakukan kontemplatif, membuka ruang bagi orang untuk menafsir dirinya sendiri. Aku baru sadar, betapa rapuhnya aku saat badai datang. Memaksa diri untuk kuat, mengurung semua ekspresi lelah. Waktunya menyepi. Menyepi adalah cara terbaik merawat jiwa, merawat batin. Sembari menunggu waktu paling tepat untuk menunjukkan yang terpilih.

Aku wanita yang dipaksa untuk menerima pilihan orang lain. Jelas, itu menyiksa jiwa raga. Dipaksa itu bentuk penindasan paling sadis bagi jiwa yang rapuh. Jika diijinkan, aku ingin mengatakan, aku adalah wanita paling tabah, paling betah dengan persoalan. Walau lelah, istirahat sejenak, kemudian kembali melangkah untuk berjuang. Setelah dituntut menerima pilihan orang lain, aku semakin merasa tertekan. Tetapi, setiap paksaan tak mampu mengalahkan takdir. Aku bertahan dengan pilihan sendiri.

Pada debar sunyi yang riuh menabuh, jiwaku meronta menolak paksaan. Tanyaku pada hati, berapa lama lagi kah jiwaku menanggung payah? Aku sudah berusaha tegar, meski sering tertunduk, meronta sendu di isak-isak tangis. Jiwaku menjalari sunyi. Kapan semesta mengijinkan aku memilih? Pertanyaan ini seakan membuatku membisu dalam senyap yang menyendiri. Segenap percakapan, daya haluku berhenti sendiri. Sedu dan sendu serasa membakar hati, air mata merepih di sudut mata, menakar nyeri di jantungku sendiri. Aku seakan bergelut dengan hidup yang begitu liar dan alot.

Kepada semesta, ijinkan aku bercerita. Maaf jika aku harus berbicara kebebasan, entah yang palsu atau yang asli. Kebebasan palsu menjadikan hidupku seperti mesin yang berniat mengejar sesuatu tanpa berniat untuk mempertahankannya. Kebebasan sejati sebaliknya adalah bentuk keputusan yang sadar untuk hidup dengan pilihan yang sederhana tetapi berkanjang sampai abadi dengan pilihan itu. Kebebasan sejati tidak menuntu apa-apa selain keikhlasan untuk mengendalikan keinginan-keinginan yang kadang liar. Intinya, dari hati dengan segenap rasa yakin, ijinkan saya memilih. Berikan aku ruang untuk menentukan yang terbaik. Yakin, pilihanku telah pertimbangkan konsekuensinya. ##Teriamaksih_Tantangan”” ##Terimaksih_Luka'”””””””””””””’ ##Terimaksih_Jiwa_Yang_Kuat””””””‘##Aku_Bisa

Lukaku

Mengenalmu hanya kebetulan pernah jumpa

Perjumpaan yang melahirkan rasa suka

Suka denganmu memang salah

Salah menyukai orang yang sebenarnya tak boleh aku suka

Jika benar salah, mengapa kita berjumpa?

Mengapa tumbuh rasa cinta?

Atau mungkin bukan rasa cinta?

Atau saja aku yang baper?

Cinta tak dapat dideskripsi lagi

Bahkan cinta menuntutku diam

Diam untuk menutup luka

Lukaku dalam, sedalam mencintaimu

Mencintaimu yang tak mungkin saya miliki

Entahlah, intinya aku mencintaimu

Tak perlu aku jelaskan lagi

Terserah padamu

Percayalah, aku mencintaimu

Sembari menyembunyikan luka

Luka karenamu

MENULIS MENGHAPUS LUKA

Kosa kata sudah banyak dirangkai menjadi kata bahkan lebih indah menjadi sebait sajak. Deretan kata itu pun diolah sebaik dan seindah mungkin demi hati yang sedang membutuhkan ketenangan. Aku tidak sebaik yang lain. Tidak juga sehebat penulis novel cinta yang sedang tenar, tapi hatiku tak ingin aku lukai karna egoku. Aku menulis semuanya di sini, mengungkapkan rasa yang kian hari menghuni hati, butuh media untuk mengungkapkannya. Sesungguhnya menulis bagiku adalah satu-satunya pilihan terindah untuk mengalahkan ego.

Jiwa meronta, mengharap kepastian dan ketenangan. Apa yang dibutuhkannya, aku tahu semuanya belum bertuan. Kepada siapa? Tuhan dan aku yang tahu. Bila saja hati itu Tuhan buatkan dari besi dan batu, layaknya dia tetap kuat dengan hantaman benda keras, lah ini dari bahan yang lembut, luluh tak berarti bila dihantam. Aku tidak menyalahkan Tuhan, tidak juga menyalahkan siapapun, aku hanya merasa kasihan dengan hatiku. Sekarang, tugasku untuk mencintai diri dalam kepastian.

Aku menulis untuk menghapus luka. Luka masa lalu yang sengaja diciptakan atau tak sengaja datang untuk memberi pelajaran. Aku tidak punya andil untuk mengambil kesimpulan. Karena ini hanya soal hati. Pendewasaan diri itu susah, tak banyak orang bisa melakukannya. Tapi baiklah untuk disadari, jika memang tak ada yang mudah dalam hidup.

Setiap kata yang terurai dalam deret kalimat itu, ada luapan isi hati. Aku, punya hak untuk bahagia tanpa luka. Optimis sekali, aku mengakuinya. Tapi memang benar, cinta diri itu pilihan terbaik saat semua yang ada tidak memberi ketenangan. Untuk apa menipu diri? untuk apa menindas hati? Jangan kau ciptakan lagi luka itu. Ini catatan untuk menghapus luka.

Aku dan hatiku, setiap catatan ini biarlah tersimpan rapi, tanpa ada yang lupa. Bukan untuk menjadi kenangan, tapi untuk pelempiasan. Hal apapun yang ada di sini, semuanya adalah aku yang sekarang.

##Tidak_Menyinggung_siapapun

##Hanya_Aku

Jika saja engkau masih menyimpan dendam, ijinkan sekali lagi untuk ku ungkapkan kata maaf.. Aku tidak memaksamu untuk menerima semua yang saya ucap dan harap, hanya saja hatiku tidak lagi ingin menyimpan luka masa lalu👏 Bukan bermaksud recek, tetapi ketahuilah, hatiku sedang berharap teduh, tanpa dendam dan luka, tanpa marah dan dengki. Sekalipun aku tahu, luka hatimu yang lebih dalam, tak terukur dan tak bisa kau gambarkan. Maaf atas ulah dan tingkahku yang tak sengaja melukaimu. Harapku, semoga harimu sudah lebih baik, lebih damai dan tak ada benci.. 1000 Maaf untukmu👏👏

KEKASIH JIWA

Raganya kuat, Hatinya Lembut

Jiwanya Tegar

Senyumnya bak embun pagi

Tuturnya tegas

Lelakiku, kekasih jiwaku

Kau ada sebelum aku ada

Engkau yang menghadirkan aku

Mencintaiku sepenuh hatimu

Hari hidupmu kau lalui dengan keras

Membuat semuanya berarti demi aku

Walau engkau peluh, lenganmu lelah

Namun senyum dan tawamu tak pernah kau sembunyikan

Tak ada keluh yang keluar dari bibirmu

Bukan berarti bisu, hanya cintamu lebih kuat dari keluhmu👌

Lelakiku.. Tak ada yang lebih utuh dari cintamu

Termasuk cinta lelaki itu, yang akan mendampingiku

Aku tahu, usiamu sudah bertambah tua

Tetapi cintamu tak pernah tua, dan termakan usia

Lelakiku, kekasih jiwaku

Adamu berarti dan membuat aku berarti

Jika suatu saat usiamu tak lagi muda

Ku mohon cintamu tak pernah tua

Biarlah awet dan terus utuh

I Love You Papa😍

SECANGKIR KOPI RINDU

Aku penikmat kopi juga penikmat rindu

Sama-sama aku kagumi dalam ruang hati yang kosong

Sajak rindu yang kian hari kian panjang

Meski tak ada yang terbalass

Ada kopi dan rindu yang aku nikmati bersama

Rasanya cukup menggugah hati untuk berdialog dengan alam👌

Sempat bercerita kepada alam, soal hati yang meronta menahan rindu

Semuanya juga tetap sama, bertahan dalam diam

Namun kopi itu, dia bijak memberi ketenangan dan kehangatan batin

Kopiku dan rindu itu beradu diam, tak berkata-kata👌

Adakah mereka menginginkan bukti

Bukti akan rinduku pada siapa?

Ahhh… Kopii,, jangan kepo😂

Aku merindu dengan bayangnya

Yang samar-samar namun tak bakal hilang

Itu yang membuatku bertahan meski susah

Kopi ku,, aku taburkan isi hatiku dalam cangkirmu

Terserah,, kau mau menjadikan rindu itu pahit atau manis👌

Tapi sudah jelas, bahwa rasanya akan sama seperti warnamu

Hitam, pahit dan menyisahkan aroma di dada

Tapi jelas,, aku tidak membenci rasa itu👌

Malah menikmatinya dengan aman👌

Biarlah kopiku menyimpan rindu dalam pahit dan hitamnya☕

JANGAN MERINDU

Aku menyapamu dalam diam

Dalam doaku setiap waktu

Dalam harap tak lagi merindu

Meski harus merasa terluka

Aku mau tersenyum

Terutama Kau, jangan lagi merindu

Jangan menyiksa hatimu dengan merindu

Ia kamu, tenang saja

Aku baik-baik saja

Perihal ragumu, hempaskan semuanya

Jangan lagi membelenggu diri dengan rindu

Jika ada luka, sembuhkan dengan bahagiamu

Hatimu tak pantas ada luka

Tak pantas kau merasa terluka

Perihal rindu itu, tak semestinya ada

Bukan larangan, ini hanya permintaan

Demi hatimu yang paling tulus

Sebaiknya tetap tulus tanpa ada rindu dan luka

LELAH TAPI TIDAK BERHENTI

“Untuk apa kau berjuang?” Teriak mereka mematahkan niatku. Semuanya masuk dalam telinga dan terdengar begitu merdu sehingga dengan baik tertata di hati dan pikiran. Hati mulai bimbang, bahkan sedikit mulai goyah apalagi disaat lelah mendera jiwa raga. Mengapa kau kuliah? toh sebentar kau selesai tapi jadi pengangguran. Semakin banyak beban di hati. Tapi pelan-pelan dicerna untuk jadi motivasi. Orang tua kamu miskin, tidak punya apa-apa untuk menyekolahkanmu, apa salahnya jika kamu berhenti saja? “Aduhhhh… parah yah hatiku, kok semakin banyak menampung duka..

Otak tidak pernah berhenti berpikir, hati juga tidak mau terlalu banyak menyimpan luka. Tapi, setiap saat ada saja pertanyaan sindiran masuk di telinga. Entahlah, aku masih ingin melanjutkan mimpi. Deretan pertanyaan sindiran itu, utuh saya jadikan motivasi.

Bekerja pasti kita merasa lelah, dan tidak sedikit saja orang yang berhenti karena kelelahan. Tapi bagiku, berhenti bukan keputusan yang tepat. Lelah karena kerja juga pantas kita rasakan, tapi lelah mendengar orang memberi sindiran itu sesuatu yang kurang wajar😂😂 Ia, saya bertahan karena ingin memberi bukti saya pasti bisa.

Jika saja lelah itu perlahan hilang, ambil langkah tepat untuk mulai lagi berjuang, jalankan apa yang menjadi tanggung jawab, bukan menghindar atau berhenti dengan alasan LELAH. Ia itu aku, lelah wajar, tapi berhenti itu kurang ajar. Aku masih bersi keras, bertahan dalam lelah, membuktikan setiap harap yang sudah diimingkan sebelum mulai melangkah.

Intinya, sindiran itu masih dibutuhkan oleh hati dan otak, untuk tetap bertahan. Lelah itu wajar kita rasakan, sebagai bukti kita sudah berjuang. Namun, jangan berhenti karena lelah.

JODOH & STATUS SOSIAL

02/05/2020

Banyak pendapat orang tentang jodoh. Dan tidak sedikit pula yang menghubungkannya dengan status sosial. Sepertinya pandangan setiap orang tidak ada yang salah, dan apa yang mereka bangun dalam pikiran mereka tergantung apa yang mereka alami sendiri.

Demikian juga saya, memilih untuk memberikan defenisi sendiri tegantung apa yang saya alami. Pendapat orang soal jodoh, tidak lari jauh dari status yang disandang oleh pribadi masing-masing. Saya akui itu. Jodoh tidak datang begitu saja tanpa ada rasa, atau rasa yang tumbuh karena Jodoh. Ahhh… soal rasa tidak perlu dihubungkan, karna ini menyangkut kepada siapa rasa itu dituju.

Kembali ke lalptop😂😂 apakah ada hubungan antara Jodoh dengan status sosial? (Kayaknya cocok untuk dilakukan penelitian korelasi😂#red) Dari pertanyaan ini, saya ingin menjawab sesuai isi hati.

Sesai dengan KBBI, kata jodoh artinya orang yang cocok untuk menjadi suami atau istri. Saya setuju dengan arti kata ini jika tidak ditambah dengan status apapun. Orang yang cocok menurut saya yakni dia yang kita pilih sesuai kata hati, bukan dia yang kita pilih atas paksaan dari pihak lain. Mengapa harus kata hati yang diikut, “bukan kata papi mami, apa lagi orang kanan kiri?”Kata Miss Mery riana. Toh bukan papi mami yang jalani, apa lagi orang lain yang tdak ada hubungan sama sekali dengan kita.

Memang baik jika ada orang lain yang berkomentar, tapi komentar bagaimana dulu? Apakah harus kita dengar tanpa harus menyahut? Ya ampun, aku manusia biasa, bukan Tuhan. Jodoh dan status sosial sepertinya dua sisi yang tidak seimbang jika mau dipadankan, pasti tidak sinkron. Terus, kenapa dipaksa untuk disamakan, payaah..

Jodoh dan status sosial jika terpaksa harus dipadankan, sepertinya kita sedang memaksa air menyatu dengan minyak. Mustahill.. Tapi nyatanya, status sosial sering menjadi alasan gagalnya suatu hubungan. Ada apa? Yah, jika saya melihat, banyak orang menilai harta di atas segalanya. Saya sedang menolak pandangan itu terjadi. Biarkan saja saya memilih dia yang tulus dan setia bukan dia yang berpendidikan tinggi, ekonomi mapan, bukan juga dia yang ganteng bak pangeran di istana raja😂 Jodoh itu tidak ada syaratnya, tidak ada standarnya juga. Jika ada standar dan syaratnya itu bukan jodoh, itu pendaftaran CPNS, gagal coba lagi😂

Intinya, saya memilih dia yang kuanggap tepat, dengan konsekuensi yang saya ambil sudah mantap😍😍

Salam cinta Yang wajar dan sehat😍😍